Introversion

Sambil duduk menunggu di bandara. Saya tengok kiri kanan melihat orang lalu lalang di depan saya. Ada laki-laki, ada juga perempuan, ada anak-anak, orang tua juga ada, ada yang gayanya heboh, yang kalem juga ada, ada yang sambil cemberut, yang ketawa-ketawa juga ada, ada yang sambil jalan sambil main hp, ada yang fokus ke jalan, ada juga yang jalan sambil tengok kiri kanan melihat-lihat suasana. Saya tidak habis pikir, kita sesama manusia tapi kok bisa yaa punya sifat beda-beda gitu. Bermilyar manusia di dunia, tetap saja tidak mungkin ada yang persis sama. Kembar identik saja tetap ada perbedaan.

Beberapa waktu lalu, saya diajak oleh teman saya untuk mengikuti tes kepribadian Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) di internet. MBTI sendiri adalah teori yang dikeluarkan oleh pasangan ibu dan anak Myers-Briggs yang intinya menggolongkan manusia menjadi 16 tipe karakter yang berbeda. Mohon koreksi saya jika saya salah. Ternyata setelah saya coba tesnya, hasilnya cukup akurat. Seru juga. Terlepas dari hasilnya benar atau tidak, ya itu untuk lucu-lucuan saja lah. Salah satu hasilnya itu adalah saya orang yang cenderung introvert. 

Introvert itu bukan maksudnya saya pemalu, tidak suka ngobrol atau bersosialisasi, tetapi seorang introvert itu memperoleh “energi” dengan cara berada dalam keheningan atau hanya bersama orang-orang terdekat saja. Jadi saya juga mau kok sesekali datang ke pesta, atau kemana gitu yang isinya tempat orang banyak. Tapi setelah itu rasanya energi saya terkuras banyak dan saya butuh waktu untuk mengisi kembali baterai saya. Biasanya dengan cara tiduran di kamar, mendengar musik yang tenang, membaca, atau mungkin tidur dulu sebentar. 

Jangan disalahartikan bahwa orang-orang introvert itu tidak suka mengobrol, berteman, atau bahkan tidak butuh bersosialisasi. Orang seperti saya juga bisa sedih dan merasa sendirian ketika saya sudah lama tidak bercengkrama dengan teman-teman saya, misalnya. Dengan kata lain, kami juga bisa loh merasa kangen untuk bersosialisasi. Oh ya, satu lagi yang perlu diketahui, ketika orang seperti saya sedang berada dengan orang-orang yang dianggap dekat atau dipercaya, malahan kami bisa jadi orang yang “ramai” dan tidak ragu lagi berceloteh sampai kadang-kadang membuat orang lupa kalau kami adalah orang introvert. Jadii, jangan ragu ya berteman dengan kami para introvert karena sesungguhnya bukan ekstrovert saja yang butuh teman, para intovert itu juga butuh teman untuk teman ngobrol dan bercerita 🙂

Pikiran Random Dini Hari

Sebagai orang yang tidak bisa memainkan alat musik apapun, saya selalu kagum sama orang yang bisa main alat musik dengan baik. Apalagi kalau memainkan alat musik sambil nyanyi, di atas panggung pula. Bagi saya hal itu mengagumkan. Kenapa? Ada beberapa alasan. Pertama, berada di atas panggung saja (hampir) selalu menjadi kegelisahan bagi saya karena saya tidak suka menjadi pusat perhatian. Kedua, saya tidak mengerti gimana caranya orang tersebut tidak lupa sama kunci dari lagu tersebut. Ketiga, saya juga bingung gimana caranya dia bisa ingat kuncinya sambil dia juga harus menyanyikan lirik lagu (yang pasti dia juga harus hapalkan). Gabungan ketiga hal tersebut selalu membuat saya bertanya-tanya: “kok bisa sih?”.

Fakta berikutnya: saya adalah salah satu dari (mungkin) sedikit orang yang enggan datang ke konser. Suasana yang ramai, chaos, banyak orang, plus suara musik yang kencang bukan gabungan hal yang menyenangkan buat saya. Nah untuk memfasilitasi kekaguman saya akan orang yang bisa bermain musik tanpa saya tidak perlu datang ke konser, saya suka menonton konser-konser penyanyi atau musisi ternama dunia di Youtube. Nah ceritanya barusan saya menonton Youtube yang isinya video musisi-musisi jazz dunia seperti Dave Koz, Lee Ritenour, dan Fourplay tampil di Java Jazz Festival. Saya terpana. Saya baru menyadari umur mereka sudah tidak muda lagi, beberapa bahkan ada yang rambutnya sudah mulai memutih. Hal yang perlu diingat juga adalah mereka sudah terbang jauh-jauh dari negara asal mereka ke Jakarta demi bisa tampil di depan penikmat musik jazz di Indonesia. Meskipun begitu, mereka memainkan alat musik mereka di atas panggung dengan begitu bergairahnya. Musiknya mengalir begitu saja, enak didengar di telinga. Walaupun ada yang terus bermain musik di panggung sampai satu jam lamanya (WOW!), saya masih bisa menikmati dengan baik. Sungguh sangat tidak membosankan.

Dalam hati saya berpikir sepertinya seru juga ya nonton konser mereka secara live, bukan di Youtube saja. Jadi bisa mengagumi secara langsung gitu kan, dan juga pasti ada kesan tersendiri dengan menonton secara langsung. Hmm. Untuk orang seperti saya yang sangat tidak suka keramaian, dimulai dengan datang ke konser jazz yang suara musiknya tidak jedag jedug mungkin awal yang cukup. Kita lihat saja, apakah pikiran random pada dini hari ini bertahan sampai nanti pagi atau sirna begitu saja. Siapa tau aja gitu jiwa tidak-suka-keramaian saya kambuh lagi begitu saya bangun tidur nanti pagi dan akhirnya tulisan ini hanya jadi pikiran random pada dini hari saja. Haha.

Hari Ulang Tahun

Hari ulang tahun.. Hmm. Ada kah di antara teman-teman yang menganggap hari ulang tahun adalah hari spesial? Hari dimana kita harus diperlakukan istimewa, diberi kue, diberi kado, etc. Saya yakin banyak yang mempunyai paham seperti itu. Nah, tapi sepertinya tidak sedikit juga orang yang menganggap bahwa hari ulang tahun adalah hari yang biasa saja, hari yang sama seperti hari-hari lainnya. Saya termasuk orang dengan paham yang kedua. Hari ulang tahun buat saya yaa just another day gitu. Kalau ada yang kasih kue atau kado ya saya senang tentu saja. Tapi tak ada kue dan kado pun tidak masalah. Hari ulang tahun itu meaningless lah buat saya.

Hingga saya bertemu dengan seseorang yang rupanya tidak sengaja mengubah cara pandang saya tentang hari ulang tahun. Seseorang ini sebenarnya juga mempunyai paham mirip-mirip saya. Tidak ada yang dia rasa spesial di hari ulang tahunnya. Bahkan kadang dia lupa hari ulang tahunnya sendiri kalau tidak diingatkan. Dia juga tidak mengharapkan kado atau kue, meskipun saya pernah kasih dan katanya dia terharu saking senangnya. Tapi bukan hal itu yang mengubah pandangan saya tentang hari ulang tahun.

Saya terkadang berbicara panjang tak tentu arah dengannya, topiknya pun random. Apa yang kami bicarakan sungguh absurd lah kalau orang lain dengar atau tau. Suatu ketika, setelah lama sekali tidak kontak, saya mengobrol dengan dia, kebetulan di waktu menjelang hari ulang tahunnya. Topiknya seperti biasa, random. Pembicaraan random tapi entah mengapa selalu menarik. Pada saat itu saya baru tersadar bahwa dia sebentar lagi ulang tahun. Umur dia akan bertambah setahun. Saat itu pula saya menyadari bahwa saya sangat senang masih punya kesempatan untuk bisa melakukan obrolan random dengannya, setelah lama kami tidak berkomunikasi. Saya sangat bersyukur saya punya waktu satu tahun lagi sejak terakhir dia ulang tahun untuk masih bisa mengobrol dengannya. Maka pada saat itu pun saya benar-benar memanjatkan doa pada yang maha kuasa agar dia selalu diberikan kesehatan, dimurahkan rezekinya, dikabulkan segala yang menjadi rencana dan doanya, serta selalu diberikan kebahagiaan lahir dan batin seumur hidupnya. 

Begitulah. Sesimpel itu. Saya kemudian mempunyai pandangan berbeda terhadap hari ulang tahun. Sekarang, hari ulang tahun bagi saya adalah hari dimana saya bersyukur sedalam-dalamnya mengenai apa saja yang telah terjadi setahun belakangan pada saya, dan mencoba menjadi diri sendiri yang lebih baik lagi setahun ke depan. Lalu tahun depannya juga begitu lagi, dst. Saya juga percaya ada orang di luar sana yang bersyukur masih bisa mengobrol dengan saya di tahun ini, seperti yang saya rasakan ke teman saya itu. 

Nah, bagi siapapun yang hari ini kebetulannya sedang berulang tahun, saya ucapkan selamat ulang tahun. Semoga selalu diberi kesehatan, kebahagiaan, kelancaran dalam semua rencana yang ditargetkan, dan selalu diberi rahmat oleh yang maha kuasa. Aamiin. Oh iya satu lagi, jangan pernah lupa untuk selalu bersyukur dan mencintai diri sendiri. Percayalah minimal ada satu orang yang sangat senang dapat mengucapkan selamat ulang tahun (lagi) padamu di tahun ini. Mungkin kamu menganggap hari ulang tahun kamu biasa saja, tapi hari ulang tahun kamu bisa jadi bukan sekedar hari biasa untuk seseorang. So, happy birthday and do enjoy today 🙂

Urusan Hati

Mungkin kata-kata seperti ini sering terdengar: hati orang siapa sih yang tau? Kecuali orang itu sendiri dan Tuhan, tentunya. Tidak semua orang sanggup dengan mudah untuk mengungkapkan isi hatinya. Komunikasi yang buruk bisa jadi salah satu alasannya, atau mungkin juga dia belum menemukan partner tepat yang bisa dijadikan tempat bercerita. Ada juga orang yang memilih buat memendam karena pesimis orang akan mengerti masalah hidupnya, atau memang masalahnya terlalu berat sehingga menjadi kewalahan dan bingung harus mulai dari mana untuk bercerita. Alasan lain yang sering juga ditemui: takut di-judge. Semua orang punya permasalahan masing-masing, yang mungkin terlihat atapun tidak terlihat. Saya selalu percaya bahwa setiap hal itu pasti tidak seperti kelihatannya dari luar. Memang sulit untuk mengerti ketika kita tidak berada dalam posisi orang tersebut, dan terkadang untuk berusaha mengerti jadinya melakukan hal yang tidak seharusnya. Contohnya, memberondong dengan pertanyaan dan pernyataan seperti “kenapa sih ga dari dulu, kok sekarang tiba-tiba gitu?”, atau “kok kamu bisa gitu sih?”, atau “ih ga ngerti deh sama masalah kamu kenapa bisa kayak gini, harusnya ga gini tau”. Pernah kah terpikir bahwa orang yang ditanya juga sama bingungnya? Dengan memberondong pertanyaan seperti itu, tidak membuat kondisi menjadi lebih baik menurut saya.

Urusan hati itu memang selalu abstrak. Tidak terlihat. Dari luar sulit dimengerti, dari dalam sulit untuk dijelaskan. Kalau saya selalu berpikir bahwa dalam hidup memang banyak yang sifatnya misteri: universe works in mysterious ways. Kita tidak bisa menuntut untuk mengerti semua hal dan kita tidak mempunyai kapabilitas untuk mengerti semua hal. We simply cannot comprehend, terlalu kompleks dan sulit dicerna oleh akal sehat. Kenapa saya berpikir seperti itu? Simpel. Kita sebagai manusia dikasih akal pikiran, tetapi juga dikasih hati. Jika semua hal bisa dicerna oleh akal pikiran, buat apa kita dikasih hati untuk merasakan? Masalahnya, terkadang yang orang hanya bisa terima adalah hal yang dia mengerti dan bisa diterima oleh akal pikiran. Makanya banyak urusan simpel yang jadi pelik, atau sebaliknya, karena hal ini. Lebih parahnya lagi, ada orang-orang yang memaksakan kehendak sesuai maunya dia yang didasarkan oleh pikiran, padahal lawan bicara mungkin hatinya tidak merasa seperti itu. Semakin ditolak, semakin dikeraskan oleh bukti-bukti nyata bahwa pikiran dia benar.

Teman saya bilang, hati itu lembut. Untuk meraihnya, harus dengan cara yang lembut pula. Sejak teman saya bilang begitu, saya jadi berpikir terus menerus. Jika benar begitu, mengapa kok sepertinya banyak manusia di dunia yang tidak paham bahwa pendekatan dengan cara yang keras tidak menyelesaikan masalah? Saya pribadi sudah merasakan hal itu. Diberikan perlakuan lembut dan keras jelas terasa bedanya, dan saya sudah merasakan bagaimana hati saya tergerak oleh kedua perlakuan yang bertolak belakang tersebut. Saya adalah orang yang tidak bisa diberikan perlakuan keras. Semakin keras orang memperlakukan saya, semakin saya memberontak. Akhirnya saya jadi membuat benteng pertahanan saya sendiri yang jadinya tidak bisa ditembus. Semua kata-kata mental.

Saya termasuk orang yang tertutup dan sulit untuk bercerita dalam tentang masalah yang saya punya. Seringkali saya sudah merasa pesimis orang akan mengerti kondisi yang sedang saya alami. Tidak sedikit yang bilang saya berlebihan, saya overthinking, masalah saya sebenarnya tidak berat, etc. Hal yang penting untuk diresapi adalah setiap orang berbeda. Kamu adalah kamu, saya adalah saya. Masalah saya mungkin tidak berat untuk kamu, begitupun sebaliknya, masalah kamu mungkin tidak berat untuk saya. Solusi yang kamu bilang paling manjur buat kamu mungkin tidak manjur untuk saya. Tidak perlu kamu mengerti kondisi hati saya, karena saya tahu itu sulit. Saya hanya tidak suka dipaksa untuk melakukan hal yang tidak saya mau dan saya yakin siapapun begitu. Oleh karena itu jangan memaksa. Cukup dengarkanlah dan jangan menilai. Berusaha selalu ada, dan (jika diperlukan) kasih tanggapan secara lembut karena (balik lagi) hati itu lembut. Sesungguhnya kadang hanya itulah yang dibutuhkan.

 

The Ultimate Guide: Bagaimana Cara Merawat Kucing Bayi yang Ditemukan di Jalan?

Halo, selamat pagi.

Setelah lamaaa banget ga menyentuh blog ini karena kekurangan motivasi, akhirnya saya menemukan motivasi besar untuk nulis lagi, yaitu kucing. Ya, bener sekali, kucing. Kenapa kucing? Naah, kali ini saya akan membagi cerita tentang bagaimana cara merawat kucing bayi yang benar. Ini penting untuk diketahui khususnya buat temen-temen yang saat ini mungkin baru aja nemu kucing bayi di jalan atau di manapun.

Prolog nih. Jadi sekitar 2 minggu yang lalu saya nemu kucing di tengah jalan. Kucingnya masih kecil banget, mungkin umurnya baru 2 mingguan dan belum bisa makan (baru bisa minum susu doang). Terus saya rawat, semua baik-baik saja sampai 3 hari yang lalu ada kejadian buruk. Kucing saya kehilangan nafsu makan dan sorenya si kucing muntah ada cacingnya (dan beberapa cacingnya masih hidup). Mengerikan. Langsung saat itu juga saya bawa ke dokter hewan. Ternyata dokter pun ga bisa apa-apa karena suhu badan dia terlalu dingin untuk dikasih tindakan. Dokter cuma kasih obat cacing dan kasih resep obat untuk mengobati infeksi bakteri di organ dalam. Semua obat dikasih ke kucing kalau suhu badan dia udah agak naik. Singkat cerita, setelah saya lakukan semua yang dokternya sarankan, si kucing ga bisa survive dari kejamnya serangan cacing serta parasit lain di tubuhnya. Akhirnya sekitar 2 jam yang lalu, si kucing meninggal di pangkuan saya. On my lap, literally. Sedih pol tapi yasudahlah saya relakan dan kemudian saya kubur si kucing di depan rumah. Kesalahan fatal yang saya lakukan adalah telat bawa si kucing ke dokter dan salah masang lampu.

Oke, cukup dengan sedihnya. Mari masuk ke bagian intinya. Setelah 2 minggu ini saya merawat sang kucing, saya bisa belajar beberapa hal krusial yang mesti temen-temen lakukan ketika memutuskan untuk merawat kucing yang ditemukan di jalanan (khususnya kucing yang masih bayi).

Berikut cara-caranya.

  1. Hangatkan badan si kucing

    dsc_2220-min

    Lampu bohlam hangat

Sangat disarankan untuk menghangatkan badan si kucing dulu sebelum dibawa ke dokter. Kalau saya kemarin caranya adalah dengan menaruh lampu di atas kandangnya. Pake lampu meja juga bisa sih. Lampunya harus bohlam kuning 40 sampai 60 watt YANG HANGAT. Sekali lagi, YANG HANGAT. Jangan salah beli ya temen-temen, bilang aja sama yang jual kalau temen-temen cari jenis lampu yang hangat. Saya sih pakenya yang merk Ph*lips softone 60 watt soft white. Kandang yang hangat ini bikin si kucing anteng karena bisa menggantikan kehangatan tubuh si ibu kucing. Pastikan lampunya jangan terlalu dekat ya, nanti kepanasan. Jangan juga terlalu jauh, nanti ga anget dong. Dirasain aja anget-angetnya pake tangan sendiri.

  1. Bawa ke dokter hewan (a.s.a.p)

Setelah badan si kucing hangat, bawa si kucing ke dokter hewan sesegera mungkin. Bilang sama dokternya kalau si kucing baru ditemukan di jalan. Jadi dokternya bisa kasih perawatan yang sesuai. Biasanya, dokter akan ngasih suntikan untuk menumpas cacing dan semua jenis parasit yang ada di dalam tubuh si kucing. Walaupun keliatannya sehat-sehat aja, biasanya di dalam perut si kucing jalanan udah ada tuh cacing-cacing dan parasit yang kalo didiemin kelamaan akan menjadi mematikan. Selain itu, ada kemungkinan si kucing juga mengidap penyakit kulit seperti scabies. Jadi bawalah ke dokter segera. Before it is too late. Jangan lupa juga konsultasi tentang apakah ada obat tambahan yang perlu dikasih, jenis makanan yang tepat, dan kapan harus check-up lagi.

Satu lagi yang cukup penting, tanya dokternya apakah si kucing perlu dikasih obat tetes mata. Jika iya, segera belikan obat tetes mata yang khusus kucing atau hewan ya. Di petshop ada kok. Biasanya kucing bayi matanya akan sering belekan karena kerjaannya tidur terus dan belum bisa cuci muka sendiri. Jadi ada baiknya temen-temen kasih obat tetes mata itu kalau diperlukan/dianjurkan dokter.

  1. Kalo ga bisa ke dokter, kasih obat cacing

Kalo misalnya entah kenapa ga bisa dibawa ke dokter, maka temen-temen boleh aja pake obat cacing yang biasa dikonsumsi orang, misalnya C*mbantrin. Untuk dosisnya sih saya ga bisa memastikan. Tapi menurut pengalaman sih biasanya kalo kucing kecil 0,5 ml, untuk kucing dewasa 1 ml. untuk lebih jelasnya, tanya aja ya dokter hewan. Jadi kembali lagi ke poin sebelumnya, ke dokter aja deh. Hehe. Utamanya karena obat cacing hanya bisa mematikan cacing, ga bisa mematikan parasit lain serta bakteri.

  1. Sediakan kandang yang layak

Kandang si kucing harus proper dan sebisa mungkin bikin si kucing nyaman ya. Kalo ga ada kandang boleh aja pake kardus. Taroh kandang di tempat hangat ga kena angin. Kandang bisa dialasi koran, lalu handuk agar empuk dan hangat. Kalo mau boleh aja ditambah boneka biar si kucing ngerasa ada yang nemenin. Hehe. Dan sebaiknya perlu ada pembagian area dimana si kucing tidur dan dimana si kucing pup. Jangan sampe si kucing tidur di atas pupnya sendiri. Misal setengah kandang dialasi handuk, setengahnya cukup koran aja jadi si kucing tau tempat dia tidur di mana. Kalau misalnya sayang pake handuk mandi, ada kok handuk (super) murah yang biasa di salon-salon itu lho (yang warna putih tipis). Lampu yang hangat (poin 1) bisa diarahkan sorotannya ke pojokan tumpukan handuk empuk tempat si kucing tidur. Kalau si kucing kepanasan, dia bisa pindah ke tempat yang ga kena sorotan lampu. Kandang harus dibersihkan dan diganti koran atau handuknya setiap hari.

  1. Belikan susu bayi atau makanan kitten
dsc_2221-min

Kitten Milk Replacer

Untuk kucing yang masih belum bisa makan, kasih susu khusus kucing, alias kitten milk replacer. Itu adalah susu formula khusus bayi kucing. Banyak dijual di petshop. Jangan pernah ngasih susu yang biasa kita minum ke si kucing. Si kucing ga bakal kuat dengan susu yang mengandung laktosa. Alhasil si kucing bakalan m*ncret deh. Saya kemarin pake susu merk L*nglife. Si kucing kebetulan cocok. Salahnya saya, di tengah-tengah saya ganti susunya jadi merk lain. Eh si kucing m*ncret deh. Sedih. Jadii, sebaiknya kalau udah nemu susu yang cocok, jangan diganti-ganti lagi ya temen-temen. Oiya satu lagi, susu yang lebih mahal belum tentu lebih cocok buat kucingnya.

Kalau si kucing udah bisa makan, maka belikan makanan kucing kecil (kitten), misalnya Wh*skas junior. Plus dikasih susu juga boleh, tapi jenisnya mungkin udah bukan kitten milk replacer lagi. Silakan tanya aja ke petshop yang temen-temen datangi.

dsc_2223-min

Botol dot hewan dan sonde

Susu harus diganti setiap 6 jam sekali. Kalau susunya masih ada sisa, ya dengan terpaksa harus dibuang karena takut susu udah tercemar dan basi. Jadi sebaiknya sekali bikin susu gausah banyak-banyak biar ga mubazir. Pemberian susu ke kucing bisa menggunakan dot khusus bayi hewan. Dijual di petshop. Kalau si kucing agak susah makan atau mogok minum susu, kucing bisa “dipaksa” buat minum pake alat sonde. Itu semacam alat suntikan yang ga ada jarumnya. Bisa minta atau beli di dokter hewan sekalian pas temen-temen bawa kucingnya ke dokter. Sonde ini juga kepake banget buat ngasih obat-obatan minum ke kucing, seperti obat cacing.

  1. “Bersihkan” si kucing

Setiap hari, kucing harus dibersihkan. Bersihinnya ga usah heboh-heboh amat. Cukup pake kapas dicelup ke air hangat dan dioles ke badan si kucing. Olesinnya sekalian pijet bagian perutnya biar merangsang si kucing buat pup teratur. Kalo si kucing udah pup, bersihkan p*ntatnya pake kapas hangat juga. Oiya, kalau kucing baru bisa minum susu aja, pupnya ga akan bau. Jadi jangan jijik ya. Hehe. Kalau si kucing udah bisa dikasih makanan khusus kitten, pupnya akan lebih bau tapi ga akan sebau kucing dewasa kok. Setelah dioles-oleh pake kapas basah, jangan lupa si kucing langsung dikeringkan pakai handuk biar ga kedinginan.

  1. Jemur di sinar matahari

Ini tambahan ya. Kalau si kucing cukup sehat, setiap pagi temen-temen bisa ngejemur kucingnya di bawah sinar matahari. Biarin dia jalan-jalan dan kena udara pagi juga biar segeran.

Fyuh, panjang ya ternyata. Hehe. Omong-omong, kalau temen-temen nemu kucingnya lebih dari satu, itu akan lebih baik karena si kucing punya temen buat berbagi kehangatan tubuh. Tapi perlu hati-hati ya karena kalau salah satu kucing sakit, yang lain juga bisa tertular.

Oke, ini saya rangkum ya semuanya. Jadi alat yang perlu disiapkan untuk merawat kucing jalanan imut ini adalah sebagai berikut.

  • Kandang atau kardus dengan ukuran yang sesuai
  • Lampu belajar dengan bohlam hangat
  • Koran bekas
  • Handuk
  • Boneka (optional)
  • Dot hewan
  • Sonde
  • Susu kucing (kitten milk replacer) atau makanan kitten
  • Kapas
  • Tisu
  • Obat-obatan; misal obat cacing, obat tetes mata khusus hewan (jika perlu)

Poin terakhir, temen-temen harus (sangat) sabar dan kuat serta siap dengan segala resikonya. Mengingat kucing bayi masih sangat rentan terhadap serangan penyakit. Apalagi kucing bayi yang jauh dari induknya. Walaupun semua yang terbaik udah kita lakukan, masih ada kemungkinan si kucing tetep lemes dan sakit. Kalau itu terjadi, yakinlah kita udah melakukan semua yang kita bisa untuk merawat si kucing.

Satu yang paling harus diingat: jika pada akhirnya si kucing harus meregang nyawa juga, yang penting dia menghembuskan nafas terakhir dengan didampingi oleh kehangatan dari kita. Semua lebih baik daripada dia mati di jalanan kan? Si kucing beruntung karena ketemu orang kayak kita yang masih peduli dan mau merawat ketimbang kebanyakan orang lain yang sekedar melihat dan lewat.

dsc_2216-min

RIP Simba :”)

I know this seems like a lot of work. But trust me, it is worth it. Bayangin aja bahagianya kalau ngeliat si kucing yang tadinya lemah bisa hidup sampe kuat dan gede karena kita rawat.

Nah, sekian tulisan saya tentang cara merawat kucing bayi yang temen-temen temukan di jalan. Ini merupakan pelajaran yang si kucing kasih buat saya dan saya bagikan ke temen-temen. Maaf kalo aada yang kurang. Semoga tipsnya berguna dan si kucing dapat hidup sehat walafiat sampe gede dan mandiri 🙂

NB : Tulisan ini saya persembahkan buat Simba, kucing kecil yang udah nemenin saya tidur dan ngasih saya pelajaran banyak selama 2 minggu terakhir ini. Yang tenang di sana ya nak, maaf saya belum bisa merawat kamu dengan baik dan benar *brb nangis di bahu si mas* *hiks*

Menyepi Saat Nyepi

Saya tidak tau persisnya jam berapa saya sampe rumah malam itu. Mungkin sekitar jam 12-an. Yang jelas saya super ngantuk dan capek. Badan rasanya rontok. Dipikir-pikir wajar juga, mengingat dari pagi sampe malem suntuk saya berkegiatan full tanpa istirahat. Saya yang cuma ikutan pawai ogoh-ogoh aja capek banget rasanya. Gimana lagi pemuda-pemuda banjar yang entah dari H minus berapa hari nyepi udah bergadang bikin ogoh-ogoh. Tepar sih udah pasti. Mungkin begitu ya esensi bikin ogoh-ogoh. Biar capek berat dan pas nyepi tinggal tidur, jadi ga kerasa tiba-tiba hari nyepi udah berakhir. Mungkin ya, cuma mungkin loh. Ngarang, tapi mungkin juga bener. Nahloh. Haha. Akhirnya saya tidur dan kebangun di pagi hari sekitar jam 8.

Begitu bangun, keadaan sekitar sepiiii banget. Sepi total. Sepi. Total. SEPI. TOTAL. Suara tivi yang biasa kedengeran dari ruang tengah, ga ada. Suara-suara ketokan palu om saya yang biasanya kedengeran dari garasi, ga ada. Tetangga-tetangga yang biasanya lewat di depan rumah dan ngobrol-ngobrol sama tante saya, ga ada. Mobil dan motor yang biasa lewat di depan rumah, ga ada. Segala jenis suara, you name it, ga ada. Sekali lagi, sepi total. Agak lebay sih. Haha. Ya tapi dibandingin sama hari-hari biasanya, hari nyepi ini bisa dibilang jauh lebih sepi (yaiyalah). Anyway, begitu saya keluar kamar tidur, ternyata ponakan saya nonton tivi. Oh iya, sebenernya pas nyepi ini segala bentuk cahaya tidak diperbolehkan. Dari mulai lilin, senter, lampu, obor, sampe hp, tivi pun ga boleh. Tapi kalo di rumahnya ada anak kecil yang kira-kiranya belum ngerti, ya boleh lah ditoleransi, selama suara tivi atau hpnya ga gaduh-gaduh amat mengganggu yang lain.

Singkat kata, saya menikmati hari nyepi dengan bengong, ga tau mau ngapain. Kami ga bisa melakukan apa aja yang bisa kami lakukan sehari-hari. Mau keluar rumah doang liat-liat suasana juga ga boleh. Jangan coba-coba sembarangan keluar rumah pas lagi nyepi ya. Bisa-bisa ditangkep pecalang. FYI, pecalang itu istilah di Bali, kurang lebih pecalang itu warga yang tugasnya menjaga ketertiban lingkungan di sekitar tempat tinggal ketika lagi ada acara adat atau keagamaan. Nah pas nyepi ini pecalang-pecalang ga diem di rumah, beliau-beliau jaga di pos, ngeliat-ngeliat keadaan siapa tau ada yang nakal diem-diem keluar rumah atau bikin kegaduhan.

Saya masih lanjut bermati gaya di rumah. Mau makan juga ga enak karena ada beberapa pendapat orang yang menyatakan kalo pas Nyepi itu harusnya puasa juga selama 24 jam. Tapi ada juga sih yang bilang kalo ga harus puasa, yang penting ga bising-bising dan terang-terang. FYI lagi, selama Nyepi di Bali, semua jenis kegiatan dan aktivitas emang ditiadakan. Bener-bener semua kegiatan dan aktivitas, termasuk kegiatan penerbangan, lumpuh selama satu hari. Tapi ga termasuk kegiatan di rumah sakit, kantor pemadam kebakaran, dan kantor-kantor lainnya yang kerjaannya menyangkut hajat hidup orang banyak (kayak UU). Ga gitu juga sih, tapi yaa temen-temen juga ngerti lah ya maksudnya apaan. Kantor-kantor tersebut buka dengan beberapa SOP kerjaan yang berbeda dengan biasanya, disesuaikan dengan keadaan nyepi. Misalnya ada orang yang mau ke rumah sakit, dia berangkat dari rumahnya di daerah A ke rumah sakit di daerah B. Pecalang dari daerah A kasih info ke pecalang di daerah B, yang kemudian kasih info ke pecalang di rumah sakit, bahwa dari daerah A akan meluncur mobil dengan plat nomor sekian membawa berapa orang dengan sakit apa. Pecalang-pecalang tersebut akan berkoordinasi satu sama lain pake handy talkie, dan pecalang dari daerah A harus ikut di dalam mobil tersebut.

Okelah kembali ke cerita saya. Saya memutuskan untuk tidur aja deh daripada bengong, dan saya tidur kira-kira 2 jam, bangun-bangun udah jam setengah 5, udah lumayan adem. Walaupun masih panas kalo dibandingin sama Bandung. Setengah 5 di Bali itu kondisi mataharinya kira-kira kayak jam 4 di Bandung. Hari pun beranjak gelap. Gelap, literally. Ga ada lampu jalan, atau cahaya apapun. Plus ga ada suara apapun. Jadi juga nih saya mengalami gelap-gelapnya hari Nyepi yang biasa hanya saya denger dari temen-temen atau saudara-saudara saya, pikir saya. Satu jam berasa lama banget. Kami pun makan malam pop mie, karena dirasa repot kalau harus bikin mie instant beneran, apalagi kalo mau bikin lauk nasi lainnya. Makan pop mie dalam kegelapan bukan hal yang mudah ternyata. Kami harus ekstra hati-hati agar kuahnya ga tumpah. Ah well, nikmati aja. Toh akhirnya berhasil juga tuh makan pop mie sampe habis dalam keadaan gelap, pake bantuan cahaya hp aja dikit. Hehe.

Malem ini tivi ga dinyalain karena bakal keliatan banget dari luar kalo nyalain tivi malem-malem. Agak serem sih keadaan sekitar, gelap total. Dalam hati saya bersyukur di rumah saya ada laki-laki, yaitu om saya. Kebayang kalo isi rumah perempuan semua. Mau kemana-mana pasti harus barengan terus, ke dapur, ke kamar, ke ruang tivi, termasuk ke kamar mandi. Kami menghabiskan malam hari sebelum tidur dengan ngobrol-ngobrol, dengan volume suara yang harus tetap dijaga tentunya.

Ga banyak yang saya bisa ceritakan sama temen-temen di hari Nyepi ini. Ya karena pada dasarnya pas Nyepi ini orang emang ga ngapa-ngapain. Dirumah aja, ga kemana-mana, beberapa ada yang puasa, ga boleh nonton tivi, mainan hp, browsing di laptop. Paling maksimal ya ngobrol-ngobrol aja sesama anggota keluarga. Dalam hal ini saya beruntung ga perlu menghabiskan Nyepi sendirian. Saya ga bisa kebayang kalo saya adalah anak kosan yang harus menghabiskan seharian Nyepi di kamar sendiri. Mungkin mereka sudah menyiapkan perbekalan makanan segala macem di kamarnya. Ga heran H-1 nyepi segala macam jenis minimarket dipenuhi orang belanja snack dan makanan-makanan kecil lainnya. Ini saya ga lebay. Saya sampe bingung, Nyepi cuma sehari tapi kok belanjanya kayak mau Nyepi semingguan. Haha. Ya gapapa juga sih, pikiran orang kan beda-beda. Yang penting kan ga nyalain lampu dan bikin kegaduhan.

Ya begitulah kira-kira pengalaman Nyepi saya di Bali. Bagi Anda yang pengen merasakan Nyepi di Bali, silakan ke Bali aja pas tanggal-tanggal Nyepi. Plus bisa menikmati dan menonton acara pawai ogoh-ogoh di malam H-1 nyepi (yang belum tau ogoh-ogoh itu apaan, bisa dibaca Menyambut Nyepi). Walaupun ga punya keluarga di Bali, at least dari hotel atau penginapan bisa keliatan suasana sekitar yang sepi banget. Kalo Anda tinggal di hotel, di dalam hotel sendiri biasanya ada acara kok buat wisatawan-wisatawan yang memang ga merayakan Nyepi. Jadi ga pada mati gaya di kamar masing-masing. Banyak juga wisatawan yang akhirnya melarikan diri ke Lombok selama hari Nyepi itu. Ga heran pas Nyepi Lombok jadi hingar bingar ramai sementara Bali sunyi senyap. Tapi menurut saya Nyepi sendiri berkesan kok. Kapan lagi kita bisa merasakan sepi yang sesepi itu kalo ga pas di hari Nyepi, khususnya di Bali? Lagipula, enak kok memanfaatkan sehari yang super sepi itu buat merenung, mikirin apa aja yang udah kita perbuat setaun belakangan. Semoga aja bisa jadi pribadi yang lebih baik setelahnya. Ya toh?

Menyambut Nyepi

Ga semua orang seberuntung saya. Bisa berada di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat. Right man in a right place, gitu kalo ga salah ya kata-katanya. Oke mungkin saya agak lebay. Mari dilanjutkan saja ceritanya kalo gitu.

Dari judulnya aja mungkin udah ketauan apa yang bakal saya ceritain ya. Yak, betul, tentang hari raya nyepi di Bali. Pertama, mari saya akui sesuatu dulu. Walaupun saya setengah Bali, tapi perlu Anda ketahui bahwa saya cukup awan dengan tradisi Bali. Termasuk soal nyepi. Saya ga pernah tau dan ga pernah mengalami nyepi di Bali, sampe akhirnya taun ini kejadian juga. Saya berniat buat tau seengganya satu tradisi di tanah leluhur saya. Jadilah saya dan sepupu saya berangkat dari Bandung pada H-2 nyepi.

Oiya, sebelum saya cerita lebih jauh, tulisan saya ini menurut apa yang saya alami aja ya. Saya juga ga sepenuhnya tau apakah yang saya ceritain mengenai nyepi di Bali ini udah bener dan udah lengkap atau belum. Bagi yang mau nambahin atau ngoreksi, monggo aja. Hehe.

Oke lanjut, sebenernya esensi dari nyepi adalah menyucikan diri. Jadi ceritanya setelah nyepi, orang-orang buka lembaran baru dalam kehidupannya. Dari nol gitu kalo kata iklan sih. Hehe. Nyepi ini jatuhnya pada taun baru Saka (kalender Bali). Disaat taun baru masehi dirayakan dengan segala macam hingar bingar kehidupan, dari mulai bakar-bakaran barbeque, main petasan dan kembang api, atau pesta, taun baru Saka disambut dengan keheningan, jauh dari cahaya dan hingar bingar kehidupan, serta kesenangan. Well, kayak namanya sih ya, nyepi. Memang disambut dengan cara menyepi, ga cocok juga namanya nyepi tapi disambut dengan ramai.

Ada beberapa kegiatan yang menyertai hari raya nyepi. Pada intinya semua prosesi itu bertujuan untuk mengusir bhuta kala, yang dipercaya sebagai makhluk raksasa yang punya tampang serem pol, biar dia ga ganggu-ganggu orang-orang lagi. Pertama, pada H-2 nyepi ada kegiatan yang namanya melasti. Melasti itu kegiatan dimana orang-orang jalan kaki ke pantai buat sembahyang, yang mana saya ga tau persis prosesinya kayak apa, apa yang dibawa ke pantai, dan segala macem tentang melasi karena pas melasti itu saya belum sampe di Bali. Saya baru ikutan pas H-1 nyepi, dari mulai prosesi yang namanya kalo ga salah adalah pengerupukan. Pengerupukan itu dilakukan rumah masing-masing, menciptakan suara berisik, misalnya pukul-pukul panci, pukul-pukul penggorengan, pukul-pukul kentongan, pokoknya yang berisik-berisik. Tujuannya adalah untuk mengusir bhuta kala di rumah.

Setelah prosesi pengerupukan, ada prosesi yang namanya pawai ogoh-ogoh. Jujur saya kagum sama proses yang satu ini. Saya baca-baca di internet, walaupun umat Hindu ga cuma adalah di Bali, ternyata pawai ogoh-ogoh ini adanya cuma di Bali. Unique, isn’t it? Sebelum saya berangkat ke Bali waktu itu, saya udah berniat sepenuh hati buat nonton si pawai ogoh-ogoh ini. Ogoh-ogoh ini dibuat oleh masyarakat, semacam perwujudan dari bhuta kala, yang pada akhirnya akan dibakar juga setelah nyepi. Maksud dibakar ini adalah pemusnahan bhuta kala. Bentuk ogoh-ogoh ini secara umum menyeramkan, walaupun ada juga beberapa ogoh-ogoh yang bentuknya malahan lucu. Setiap banjar (setingkat RW) di Bali bakal bikin ogoh-ogoh masing-masing untuk kemudian diarak muter di rute yang udah ditentukan oleh setiap banjar. Beberapa banjar digabung untuk pawai bersama, menuju ke pura terdekat, kemudian kembali ke bale banjar masing-masing.

Beberapa ogoh-ogoh yang berhasil saya foto

Beberapa ogoh-ogoh yang berhasil saya foto

Saya cuma berniat buat nonton, ketika temen saya nyuruh saya buat sekalian ikutan pawai. “Ikut pawainya aja lah, ngapain nonton doang, udah biasa. Jadi turis antimainstream dong.” Gitu kata temen saya. Baiklah. Akhirnya dengan modal kamen (kain), selendang dan baju pinjaman, plus dipasangin pula kamennya karena saya ga bisa, saya ikutlah pawainya, nebeng sama banjar temen. Pokoknya semua serba nebeng. Haha. Pertama saya jalan ke jalan raya tempat pawai dimulai, saya dibikin terkagum-kagum sama ogoh-ogoh yang udah banyak terdapat di jalanan. Menjelang nyepi, di setiap jalan di Bali emang udah banyak terdapat ogoh-ogoh yang akan diarak saat pawai. Meskipun saya bukan orang yang artistik, tapi saya beneran sempet tercengang-cengang sama berbagai macem bentuk ogoh-ogoh yang ada. Saya super bingung, gimana cara orang-orang di banjar bikin itu ogoh-ogoh ya? Ukurannya besar, bentuknya kompleks, detailnya banyak, dan hasilnya bagus. Bentuknya ogoh-ogoh sendiri macem-macem. Sebagian besar ogoh-ogoh itu punya wajah mengerikan, karena emang ceritanya perwujudan dari butha kala, tapi ada juga ogoh-ogoh yang lucu, yang unik (ogoh-ogoh naik surfboard), bahkan ada ogoh-ogoh yang bentuknya superhero. Wew.

Kostum pawai

Kostum pawai

Hmm, balik lagi ke cerita pawai. Jam 7 WITA kami mulai jalan, sedikit-sedikit berhenti. Bagi yang belum kebayang, Anda harus tau, saat itu jalanan super ramai sama berratus-ratus orang yang jalan plus puluhan ogoh-ogoh yang ukurannya besar banget. Singkat kata, jalanan dengan lebar sekitar 6 meter habis dipenuhi sama orang-orang dan ogoh-ogoh, dan itu pun masih macet. Udah kebayang ramenya? Kayak orang nonton konser Taylor Swift kali ya. Walaupun saya juga ga tau karena saya ga nonton konsernya Taylor Swift kemarin. Hahaha. Dengan begitu, jalan pun resmi ditutup untuk kendaraan. Baru seperempat jalan, kaki udah kerasa cenat cenut gara-gara gerakan yang ga konstan, jalan-berhenti-jalan-berhenti-jalan. Bahkan banyak orang yang akhirnya duduk di tengah jalan karena pegel. Ambil hikmahnya aja deh, kapan lagi coba bisa duduk di tengah jalan gede selain pas pawai ogoh-ogoh. Sepanjang rute pawai, banyak turis yang foto-foto keadaan pawai. Rute pawai saya kemarin mungkin hanya sekitar 2 – 3 km. Saya diem-diem bangga dan seneng juga karena saya lebih beruntung daripada turis-turis yang hanya foto-foto, saya langsung ikutan pawainya. Yeay. Bener sih kata temen saya, ikutan pawai punya sensasi tersendiri dibanding hanya nonton dan foto-foto. Kerasa jadi orang Bali, berasa jadi lebih memiliki semua rangkaian acara gitu, walaupun pada kenyataannya ya itu semuanya punya orang. Hahaha. Setelah berjuang dengan kaki yang mulai cenat-cenut, akhirnya jam 10-an selesai juga pawainya, kami udah kembali ke bale banjar. Banyak mobil berhenti (atau terpaksa berhenti) karena mereka ga punya pilihan. Mau ga mau mereka baru bisa jalan setelah semua banjar disitu selesai pawai, mungkin sekitar jam 11 atau setengah 12.

Keadaan sesaat sebelum pawai dimulai

Keadaan sesaat sebelum pawai dimulai

Keadaan mulai sepi setelah jam setengah 12. Mungkin orang-orang udah pada dirumah masing-masing, siap-siap buat nyepi besok. Banyak rumah yang udah mulai mematikan lampu. Toko-toko yang biasanya lampunya dibiarkan menyala pada malam hari, waktu itu juga mematikan lampunya. Udah mulai kerasa nih suasana nyepi, walaupun sebenernya resminya nyepi sendiri dilaksanakan dari pukul 6 pagi, hingga pukul 6 pagi besoknya. Ga mau kalah, kami pun pulang ke rumah masing-masing untuk menyambut nyepi besok. Bersih-bersih, mandi, tidur deh. Brace yourself, nyepi is coming *excited* 😀